bersahabat dengan jin menurut islam
Dansatu-satunya kesamaan antara manusia dan makhluk halus yaitu untuk beribadah kepada Allah, seperti yang dijelaskan dalam ayat Al-Qur'an berikut: "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56). 3. Makhluk Halus Tak Jauh Berbeda dengan Manusia
MenurutMuhammad Isa Dawud yang bersahabat dengan jin muslim (buku: Dialog dengan jin islam),menerangkan ciri-ciri bentuk jin jenis rohaniah bersih (berugama islam) iaitu: 1) Meyerupai seperti manusia,hanya ada perbezaan kecil. 2) Saiz kepala lebih besar dalam bandingannya dengan tubuh.
Apaarti dari nama Syamsul? Syamsul mempunyai arti (1) Romantis (2) bersahabat (3) berterima kasih dalam bahasa Islami. Nama ini mengandung makna romantis yang menjadi doa dalam hidupnya serta dicintai Allah SWT. Nama dari 7 huruf dan berawalan S ini memiliki arti yang bagus dan indah, sesuai anjuran menurut Al-Qur'an dan hadist.
6 Ada perawat yang minta pesakit bawa kain. Kain tidak menjadi masalah tetapi ianya bermasalah apabila perkara ini menjadi syarat dalam proses rawatan. Terdapat jin yang dijamukan (rasuah juga) dengan kain, contohnya kain berwarna kuning, merah, hitam, kain pelikat ataupun kain batik.
Kahishamempunyai arti: [1] Nama seorang penyair Islam [2] Putri dari Al Waqa, dan berasal dari bahasa Islami. Nama Kahisha adalah rekomendasi terbaik untuk para orang tua beragama muslim karena bermakna baik dan indah, sesuai dengan syariat menurut Al-Qur'an. Selain unik, nama Kahisha juga terdengar sangat keren dan modern.
Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. pinterest via wikipedia Mataram Islam dan VOC bahu-membahu mengalahkan pemberontakan pasukan gabungan Jawa-Tionghoa. Takhta Pakubuwono II aman. Mataram Islam dan VOC bahu-membahu mengalahkan pemberontakan pasukan gabungan Jawa-Tionghoa. Takhta Pakubuwono II aman. - Barangkali, menjalin perjanjian dengan VOC tak ubahnya menjalin perjanjian dengan setan. Dan itulah yang dilakukan oleh Mataram Islam tak lama setelah meninggalnya Sultan Agung. Alih-alih kesuksesan, Mataram Islam semakin hari semakin mendur setelah "bersahabat" dengan kongsi dagang dari Belanda itu. Sebagai informasi, kontak pertama Mataram dan VOC terjadi di era Susuhunan Anyakrawati, raja kedua Mataram Islam. Ketika itu, aktivitas Belanda sebatas perdagangan dari pemukiman pesisir utara Jawa. Interaksi mereka dengan wilayah pedalaman juga masih dibatasi. Pada masa Sultan Agung, Mataram Islam tidak mengizinkan VOC mendirikan loji-loji dagang di pantai utara. Kesultanan ini tak ingin ekonomi di pantai utara akan melemah jika dikuasai oleh VOC. Penolakan ini membuat hubungan Mataram dengan VOC merenggang. Bahkan Mataram Islam sampai dua kali menyerang benteng VOC di Batavia, meskipun berakhir dengan kegagalan. Sepeninggal Sultan Agung, tahta diambil alih oleh anaknya, Amangkurat I. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
Sebagai makhluk sosial, tentu saja manusia membutuhkan keberadaan orang lain hal itu juga merupakan tujuan penciptaan manusia . Oleh karena itu, dalam menghadapi perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan seorang yang mampu memberikan dukungan positif bagi kita. Kita mengenalnya dengan sebutan sahabat cenderung akan mampu mengerti dan memahami diri kita sepenuhkanya. Ia juga menjadi seseorang yang selalu kita ajak untuk berbagi segala perasaan termasuk kesedihan atau kegembiraan sebagaimana pengertian ukhuwah islamiyah insaniyah dan wathaniyah .Banyak orang yang mengandalkan seorang sahabat sebagai panutan dan pemberi nasihat serta sebagai alarm yang akan selalu mengingatkan mereka. Dalam islam sendiri persahabatan merupakan salah satu yang sangat di anjurkan oleh Allah SWT sebagaimana firmanNya berikut ;“Sebenarnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang bersudara, maka damaikanlah dintara kedua saudara kamu yang bertelingkah dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu memperoleh rahmat ” QS. Al-Hujurat 4910Menekankan hal tersebut, Rosulullah SAW juga bersabda dalam Hadist berikut “Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan kepada musuh dan tidak menghinakannya.”HR MuslimNilai Persahabatan Dalam IslamPersahabatan merupakan sebuah nilai yang harus ditanamkan sejak dini. Karena bagaimanapun orang yang memiliki banyak sahabat dipercaya akan lebih mudah dalam menjalani kehidupannya. Sebagaimana sebuat kiasan “Semakin banyak sahabat semakin banyak rezeki”. Perumpamaan ini benar adanya, karena talu silaturahmi yang selalu terjaga akan bisa membuka pintu rezeki. Karena itu, sangatlah penting untuk memahami nilai persahabatan dalam islam sebagaimana nilai iman dalam islam . Oleh sebab itu, dalam poin berikut akan dijelaskan secara lengkap mengenai 10 nilai persahabatan dalam islam yang patut Mengokohkan Satu Sama LainIslam memandang persahabatan ibarat sebagai sebuah bangunan. Dimana nilai persahabatan merupakan pondasi bangunan yang akan saling menguatkan. Jika pondasi tersebut kuat maka kokohlah bangunan tersebut. Sebagaimana hadist dibawah ini “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” HR. Bukhari – Muslim.2. Menimbulkan Rasa Kasih SayangNilai persahabatan akan menimbulkan rasa cinta kasih yang akan semakin memperkuat ikatan kebersamaan. Diumpamakan bahwa persahabatan ialah seperti amggota tubuh, jika ada yang sakit, maka bagian tubuh yang lain akan ikut merasakannya. Dikutip dari hadist riwayat muslim berikut “Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan hal yang sama, sulit tidur dan merasakan demam.” HR. Muslim.3. Sahabat Baik Akan Menjadi Sahabat Allah Allah sangat mencintai umatnya yang saling bersahabat dalam hal kebaikan. Begitupula dengan Rasulullah SAW beliau menjabarkannya dalam hadist berikut “Sebaik baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya.” HR Al-Hakim.Dalam hadist diatas menjelaskan bahwa, sahabat baik di sisi Allah adalah mereka yang mampu menjadi sahabat baik untuk temannya. Artinya bahwa mereka yang memiliki nilai persahabatan tulus akan memiliki nilai dimata Allah SWT. Meskipun ada banyak type manusia yang bersahabat dengan memiliki banyak kepentingan di belakangnya. Namun, percayalah bahwa Allah SWT mengetahi hal Mereka Yang Bersahabat Karena Allah Akan Membuat Para Syuhada dan Nabi Menjadi Iri “Di sekitar Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada, hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka.” Ketika para sahabat bertanya, Rasulullah menjawab, Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.” HR. Tirmidzi.Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa, mereka yang menjalin persahabatan karena Allah, kelak akan memiliki cahaya, wajah mereka bercahaya dan bahkan pakaian mereka juga dibuat dari cahaya. Hal ini kemudian akan membuat iri kaum syuhada dan para Nabi. Karena itulah, menunjukka bahwa betapa muluanya dan beruntungnya mereka yang menjalin persahabatan karena Sahabat Terbaik Adalah Ia Yang Senantiasa Mengingatkanmu Kepada AllahDalam hidup ini, menemukan sahabat terbaik bukanlah hal yang mudah. Karena ridak bisa dipungkiri bahwa, setiap manusia memiliki kepentingan dalam menjalin sebuah hubungan tidak terkecuali sebuah persahabatan. Namun, jika anda bisa menemukam sosok sahabat yang selalu membuat anda mengingatNya, maka ia merupakam sosok spesial dan sahabat terbaik bagi anda. Seperti dalam hadist berikut “Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya.” HR. Hakim6. Sahabatmu Ialah Cerminan DirimuDimana anda hidup, siapa sajakah orang yang anda ajak berteman tentu akan sangat berpengaruh kepada pembentukan karakter diri anda. Lebih gampangnya bahwa jika anda berteman dengan orang sholeh maka anda akan mengikutinya, sebaliknya jika anda bersahabat dengan orang yang kurang baik akhlaqnya maka pasti akan berpengaruh juga kepada anda. Karenanya, sangat penting memilih sahabat yang memiliki karakter dan akhal yang baik. Seperti juga dalam hadist berikut.“Seseorang itu tergantung pada agama sahabatnya, maka perhatikanlah salah seorang dari kamu kepada siapa dia bersahabat.” HR Abu Daud7. Persahabatan Karena Allah Akan Mendapatkan NaunganNyaDari Abu Hurairah, dari Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam, beliau bersabda“Sesunguhnya kelak di Hari Kiamat Allah akan berfirman, Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku’ “ HR MuslimAllah SWT menjanjikan kepada mereka yang menjalin oersahabatan karena Allah. Bahwa kelak akan memberikan nauangan pada saat hari kiamat tiba. Bersama dengan tujuh golongan lainnya, mereka yang bersahabat karena Allah akan mendapatkan nikmat dan kemuliaan yang tiada tara Kecintaan Allah Kepadamu Setara Dengan Cintamu Kepada SahabatmuAllah sangat mencintai umatnya yang saling beersahabat. Sebagai mana dalam sebuah kisah berikut. Sesungguhnya ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kota lain. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk mengikutinya. Ketika malaikat sampai kepadanya, ia berkata,“Hendak ke mana engkau?” Orang itu berkata, “Aku akan mengunjungi saudaraku di kota ini.” Malaikat berkata, “Apakah ada hartamu yang dikelola olehnya?” Ia berkata, “Tidak ada, hanya saja aku mencintainya karena Allah.” Malaikat itu kemudian berkata, “Sesunggunya aku adalah utusan Allah kepadamu. Aku diperintahkan untuk mengatakan bahwa Allah sungguh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu itu karena Allah.” HR. Muslim9. Kelak Engkau dan Sahabat Baikmu Akan di Pertemukan Kembali Kehidupan manusia tidaklah abadi, kita hanya sementara hidup di dunia. Tentunya, pada kehidupan selanjutnya kita berharap dapat bertemu dengan orang yang kita cintai dan kasihi termasuk sahabat kita. Allah memberikan kemuliaan bagi mereka yang bersahabat karena Allah. Sebagimana dalam sebuah hadist berikut “Apabila dua orang laki-laki saling mencintai dan mengasihi di jalan Allah, yang satu berada di timur, sedangkan yang satu lagi berada di barat, maka Allah SWT akan mengumpulkan keduanya di hari kiamat dan berkata, “Inilah orang yang telah engkau cintai di jalan-Ku.” HR Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas10. Sahabat Baik Merupakan Nikmat yang Diberikan Allah SWT Kepada UmatnyaIslam merupakan salah satu nikmat terbesar yang telah di berikan oleh Allah SWT kepada umat manusia. Namun, tahukah anda bahwa bahwa ternyata ada nikmat lain yang tidak bisa anda sangkal. Hal tersebut tidak lain adalah sahabat baik yang anda miliki. Seperti pernyataan yang disampaikan Umar Bin Al-Khatab berikut “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari seorang saudara yang shalih yang Allah berikan kepada seorang hamba setelah Agama Islam. Bila salah seorang kalian mendapat kasih sayang dari saudara/kawannya, peganglah erat-erat persahabatan tersebut” Umar Bin Al-KhatabNilai persahabatan dalam islam yang patut di ketahui. Menjadi salah satu nikmat yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia dan juga sebagai fungsi agama islam itu sendiri . Memiliki sahabat merupakan salah satu bentuk makhluk sosial yang tidak dapat dipungkiri dan merupakan hakikat manusia menurut islam . Karena hal tersebut memilih sahabat baik juga merupakan sebuah tugas yang tidak yang terjebak dan terjerembab karena memilih sahabat yang salah. Dengan melihat betapa nilai persahabatan dalam islam amat di junjung tinggi. Maka sudah sepantasnya anda mampu selektif dalam memilih sahabat semoga artikel ini dapat bermanfaat.
OLEH MUHYIDDIN Dalam Alquran surah az-Zariyat ayat 56, Allah SWT berfirman, yang artinya, “Aku Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” Para makhluk-Nya itu diwajibkan untuk tunduk menyembah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dalam surah al-Hijr ayat 26-27 diterangkan bahwa Allah menciptakan jin terlebih dahulu sebelum manusia. “Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia Adam dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan, Kami telah menciptakan jin sebelum Adam dari api yang sangat panas.” Umat Islam meyakini adanya ciptaan-ciptaan gaib, termasuk jin. Untuk mengetahui lebih banyak tentang bangsa jin, ada pelbagai buku yang dapat menjadi rujukan. Salah satunya ialah karya seorang ulama Nusantara yang juga pakar ilmu tafsir Alquran. Dialah Prof Muhammad Quraish Shihab. Adapun kitab yang dimaksud ialah Jin Dalam al-Qur’an. Mengawali pemaparannya, dai kelahiran Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, itu menuturkan sebuah pengalamannya saat mengisi kajian ilmiah di Boston, Amerika Serikat AS, tahun 1994. Seorang mahasiswa bertanya kepadanya tentang pandangan Islam terhadap makhluk-makhluk halus, semisal jin dan setan. Walaupun pertanyaan ini sudah dijawab olehnya di forum tersebut, Prof Quraish Shihab begitu kembali ke Tanah Air menjadi tertarik untuk menulis lebih detail tentang topik itu. Maka lahirlah buku Jin Dalam al-Qur’an. Buku tersebut merupakan salah satu bagian dari kumpulan karangan bertema “Seri Makhluk Gaib". Isinya tidak hanya menghimpun ceramah-ceramah sang guru besar, tetapi juga penjelasan lebih perinci tentang pembahasan. Dalam buku ini, para pembaca akan menemukan sekian riwayat dari berbagai literatur Islam tentang makhluk halus, khususnya jin. Penjelasan penulis diharapkan dapat menghapus kesesatan dan kekeliruan yang boleh jadi selama ini melekat dalam benak sebagian masyarakat. Pada awal pembahasan buku ini, rektor kedelapan Universitas Islam Negeri UIN Syarif Hidayatullah tersebut menegaskan bahwa kepercayaan akan makhluk halus sudah ada di tengah komunitas manusia. Bahkan, keyakinan itu melekat sejak sebelum mereka mengenal dakwah agama tauhid. Dalam kepercayaan yang mereka peluk pada masa pra-Islam, makhluk-makhluk itu dikatakan tidak semuanya jahat. Ada yang bersahabat dengan manusia; ada pula yang memusuhi. Ada yang memberi manfaat, tetapi sebagian juga mengakibatkan mudarat. Prof Quraish lalu mengutip beragam pendapat para ilmuwan tentang alasan di balik kepercayaan manusia pra-Islam akan eksistensi makhluk halus. Mereka peneliti telah berusaha menjawabnya dan berbagai pendapat banyak dikemukakan. Namun, upaya elaborasi mereka hingga kini belum juga tuntas, atau belum disepakati seutuhnya. Satu hal yang pasti, sulit membuktikan keberadaan makhluk halus secara metode empiris. Sementara itu, Alquran menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan alam raya ini sebagai bukti kebesaran-Nya. Semesta yang luas itu ditempati oleh berbagai makhluk ciptaan-Nya, baik yang berjasad maupun nirempiris. Keragaman tersebut begitu beraneka. Ada makhluk yang berakal, hewani, nabati dan lain sebagainya. Jin dan manusia diciptakan Allah dengan misi penghambaan dan beribadah kepada-Nya. Demikian diterangkan dengan begitu jelas dalam surah al-Zariyat ayat 56. Sebelum menguraikan pandangan para pakar tentang jin di dalam karyanya ini, penulis yang juga mantan menteri agama RI itu terlebih dahulu mengemukakan pandangan masyarakat jahiliyah tentang jin. Sumber-sumbernya merujuk pada kisah sejarah atau sirah nabawiyah. Berbagai takhayul dipercayai kaum pra-Islam tersebut. Bagaimanapun, semuanya terbantahkan oleh kebenaran dari Alquran dan as-Sunnah. Secara umum, menurut Quraish Shihab, masyarakat Jahiliyah percaya adanya makhluk yang bernama jin. Dalam keyakinannya, bangsa ini adalah makhluk yang memiliki kekuatan tersembunyi. Menurut kepercayaan mereka, jin di satu sisi mampu memicu gangguan, tetapi di sisi lain juga dapat memberikan manfaat. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam Alquran surah Saba’ ayat 41, yang artinya, “Sebagian mereka menyembah jin.” Di samping itu, tidak jarang pula sebagian masyarakat jahiliyah yang meminta bantuan dan perlindungan jin. Kebiasaan itu tentunya dilakukan karena ketidaktahuan mereka. Orang-orang ini hanya mengira-ira tentang kehebatan jin, padahal perbuatan itu pada akhirnya menambah beban dosa dan kesukaran. Hal ini disinggung dalam Alquran surah al-Jinn ayat 6, yang artinya, “Jin-jin itu menambah mereka dosa dan kesalahan kesulitan.” Setelah memaparkan tentang pandangan masyarakat Jahiliyah tentang jin, penulis mengungkapkan pandangan para pakar tentang eksistensi atau wujud dari jin. Di antaranya, penulis mengutip pandangan seorang filsuf muslim, Ibnu Sina, yang menyebutkan bahwa jin adalah binatang yang bersifat hawa yang dapat mewujud dalam aneka bentuk. Seorang pakar tafsir Alquran kenamaan, Fakhruddin ar-Razi wafat 1210, yang menukil pendapat tersebut mengomentari bahwa definisi yang dikemukakan Ibnu Sina tersebut hanyalah penjelasan tentang arti kata jin. Adapun mahkluk jin itu sendiri tidak memiliki eksistensi di dunia nyata. Dalam pembahasan selanjutnya, baru kemudian penulis menjelaskan tentang wawasan Alquran tentang jin. Namun, sebelum itu, penulis mengingatkan mengenai beberapa penjelasan dalam Kitabullah. Misalnya, Allah menciptakan banyak makhluk yang hakikatnya tidak diketahui manusia. Karena itu, satu-satunya jalan untuk mengetahui tentang jin adalah melalui wahyu, baik yang disampaikan dari Alquran maupun hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Quraish Shihab menjelaskan, di dalam Alquran ditemukan paling tidak lima kata yang sering digunakan untuk menunjuk makhluk halus dari jenis jin. Kelimanya adalah jin, jan, jinnah, iblis, dan syaithan. Agar para pembaca dapat memehaminya, penulis pun menjelaskan lima kata tersebut secara lebih perinci. Lalu bagaimana wawasan Alquran tentang jin? Apa saja yang harus dipercayai oleh seorang Muslim tentang hal ini? Menurut Qurasih Shihab, secara singkat dapat disimpulkan bahwa Alquran menjelaskan adanya makhluk ciptaan Allah yang bernama jin, yang tercipta dari api sebagaimana diakui iblis dan dibenarkan Alquran. “Aku lebih baik darinya Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah” QS al-A’raf [7] 12. Penulis juga mengingatkan informasi Alquran yang menyatakan bahwa iblis itu termasuk golongan jin. Allah berfirman, “Iblis enggan bersujud. Dia adalah dari golongan jin” QS al-Kahf [18] 50. Menurut Quraish, jin mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan ciri manusia. Antara lain, dia dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihatnya. “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka” QS al-A’raf [7] 27. Makhluk tersebut juga dapat hidup di bumi. Namun, Alquran tidak menjelaskan di mana, tetapi demikian iitulah perintah Allah kepadanya ketika Yang Mahakuasa mengusir dari surga bersama Adam. Mereka juga juga mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan berat, seperti apa yang mereka lakukan untuk Nabi Sulaiman AS. Terkait putra Nabi Daud AS itu, Alquran menunjukkan sebuah kisah menarik. Para jin terus mengerjakan pekerjaannya, sekalipun Nabi Sulaiman AS sudah wafat. Ya, mereka tidak mengetahui bahwa tuannya itu telah tiada. Ini menunjukkan, kemampuan bangsa jin juga memiliki keterbatasan. Walaupun makhluk tak gaib, mereka pun tidak diberi pengetahuan tentang semua perkara gaib. Dalam bukunya ini, Quraish Shihab banyak menjelaskan sosok jin berdasarkan ayat-ayat Alquran. Menurut dia, banyak sekali ayat Alquran yang redaksinya dapat dijadikan dalil untuk membuktikan adanya makhluk berwujud yang bernama jin. Selain itu, buku ini juga juga menyuguhkan pengetahuan kepada para pembaca tentang jenis dan macam-macam jin, makanan dan cara makan jin, tempat dan waktu yang disukai jin, aneka bentuk jin, kemampuan jin, serta mengungkapkan bahwa jin bisa dimanfaatkan manusia. Dengan membaca buku ini, para pembaca akan mengetahui tentang seluk beluk jin. Bahkan, pembahasan di dalamnya cukup mendetail tentang kalangan jin Muslim. Mereka adalah bangsa yang disebut-sebut taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka selalu siap menyimak tatkala ayat-ayat Allah dibacakan. Tentu, selainnya ada pula kalangan jin yang kafir, munafik, dan kerap bermaksiat. Kondisinya tak jauh berbeda daripada anak cucu Nabi Adam AS. Buku setebal 161 halaman ini memiliki banyak kelebihan, terutama dalam memperjelas tentang sosok jin yang kadang disalahpahami oleh masyarakat. Di samping itu, buku ini juga disajikan dengan gaya bahasa yang mudah untuk dipahami. Kendati demikian, menurut kami, desain sampul buku ini kurang mewakili apa yang terkandung di dalamnya.
bersahabat dengan jin menurut islam